Aplikasi Cerdas Untuk Deteksi Dini Psikosis

Ketika gangguan jiwa berat kerap luput terdeteksi sejak dini, StethoSoul menawarkan harapan baru melalui teknologi yang memungkinkan skrining psikosis secara cepat dan mudah diakses. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi rumah tangga yang memiliki anggota dengan gejala psikosis atau skizofrenia secara nasional mencapai 4 permil. Artinya, dari setiap 1.000 rumah tangga di Indonesia, terdapat empat rumah tangga yang salah satu anggotanya mengalami gangguan jiwa.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. dr. Khamelia Malik Sp.KJ., menuturkan, skizofrenia merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa berat yang ditandai dengan halusinasi, delusi, serta perubahan cara berpikir. Kondisi ini tidak hanya membebani pasien, tetapi juga keluarga dan negara. Sayangnya, sebagian besar pasien datang ke rumah sakit pada tahap kronis, ketika gejala sudah berulang dan sulit dipulihkan.

“Padahal, peluang untuk pulih dan kembali berfungsi dalam masyarakat jauh lebih besar kalau diobati lebih awal. Semakin panjang durasi dari gejala pertama hingga terapi (duration of untreated psychosis), maka peluang untuk pulih semakin kecil,” ujar Khamelia.

Mengatasi skizofrenia di Tanah Air merupakan tantangan besar. Gangguan jiwa berat ini sering kali hadir tanpa disadari, baik oleh penderita maupun keluarganya. Di sisi lain, jumlah psikiater di Indonesia sangat terbatas, yakni 1.200 orang untuk melayani seluruh populasi di Indonesia.

Berangkat dari kondisi tersebut, ia bersama Prasandhya Astagiri Yusuf, S.Si, M.T, Ph.D., Adila Alfa Krisnadhi, S.Kom., M.Sc., Ph.D., dan Lulu Ilmaknun Qurotaini, M.DataSc.,  menghadirkan StethoSoul, aplikasi untuk mendeteksi dini gejala psikosis. Aplikasi berbasis kecerdasan artifisial ini memanfaatkan teknologi speech-to-text dan text classification dengan pendekatan machine-learning.

 

Pengembangan Melibatkan 1.200 Subjek

Adila menambahkan, StethoSoul mempelajari respons dan isi bicara pengguna dari satu set pertanyaan yang disediakan. Rekaman suara kemudian dikirim ke server berbasis cloud untuk dianalisis, lalu sistem memberikan hasil berupa risiko rendah, sedang, atau tinggi. Pengembangan aplikasi ini menggunakan data dari 1.200 subjek dengan berbagai kondisi, mulai dari pasien akut, pasien dalam remisi, hingga remaja berisiko tinggi.

“Data 1.200 subjek tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan mana yang menunjukkan gejala psikosis dan mana yang tidak. Data tersebut juga digunakan untuk membangun dan melatih model machine learning,” terang Adila.

Lebih jauh Lulu menjelaskan, basis dari teknologi AI yang digunakan ialah sintaksis dan semantis. Sebelum pengembangan model AI ini, tim peneliti berkonsultasi dengan tim dokter untuk mengetahui gangguan bicara yang dialami oleh penderita psikosis. Tim peneliti juga melakukan riset menggunakan data statistik dan teknologi terbaru AI. Hasilnya, ditemukan adanya perbedaan antara penderita psikosis dan individu yang tidak mengalami kondisi tersebut.

“Salah satunya adalah kompleksitas kalimat. Pasien skizofrenia memiliki kecenderungan tidak menggunakan kalimat majemuk atau penghubung, bahkan kalimat berikutnya tidak relevan. Pola-pola seperti inilah yang dideteksi oleh teknologi AI melalui proses machine learning,” ujar Lulu.

Dari Skrining Psikosis ke Clinician in Pocket

Prasandhya menuturkan, dikembangkan sejak 2019, StethoSoul telah memperoleh pendanaan sebanyak empat kali. Kendati demikian, perusahaan rintisan ini diharapkan mampu berdiri secara mandiri, salah satunya dengan menciptakan sumber pendapatan yang kemudian digunakan untuk riset dan pengembangan. Sumber pendapatan tersebut bisa diperoleh jika aplikasi ini dapat dihilirisasi. Namun, hilirisasi sangat berkaitan dengan demand pool.

Sayangnya, lanjut Prasandhya, solusi AI di Indonesia masih complicated, terutama terkait regulasi dan model bisnis. Meskipun user-nya ada, yang kerap menjadi pertanyaan, siapa pembelinya. Model bisnis B2C dirasa belum efektif. Oleh karena itu, pada tahap awal, tim pengembang melakukan pendekatan B2G dengan menyasar program pemerintah, yakni Sekolah Unggulan Garuda, program untuk mempersiapkan generasi muda berprestasi untuk melanjutkan pendidikan di universitas terkemuka di dunia.

“Ketika mereka kuliah di luar negeri, sering kali yang menjadi masalah bukan aspek kognitif, tetapi gangguan kejiwaan. Kami ingin membantu mendeteksi gangguan kejiwaan ini sejak awal. Aplikasi ini juga nantinya dilengkapi dengan deteksi dini kecemasan dan depresi,” terang Prasandhya.

Khamelia menambahkan, StethoSoul nantinya dilengkapi dengan pemeriksaan gelombang otak dan pemeriksaan kognitif. Di masa depan, StethoSoul tidak hanya menjadi aplikasi untuk mendeteksi dini psikosis, tetapi juga menjadi clinician in pocket.

“Harapannya, masyarakat tidak perlu datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan awal. Mereka bisa melakukan screening di mana saja menggunakan telepon genggam.”

Bagikan artikel ini

Artikel lainnya