Gambar Telapak Tangan Gua Prasejarah (Hand Stencil) di Indonesia

Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, S.S., M.Si memberikan materi bertema “Gambar Telapak Tangan Gua Prasejarah (Hand Stencil) Indonesia” pada Program Pendidikan Jarak
Jauh yang diselenggarakan oleh Kantor Sumber Daya Pembelajaran (KSDP) UI belum lama ini. Materi pembelajaran yang dikemas dalam bentuk video ini mengupas jejak sejarah gambar telapak tangan pada masa prasejarah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam paparannya, Cecep mengungkapkan ketika belum mengenal rumah, manusia hidup di ruang-ruang alam di alam terbuka, kaki bukit, atau gunung yang dikenal dengn gua atau goa. Pada masa yang dikenal dengan masa prasejarah itu, kehidupan mereka sangat bergantung dari berburu binatang dan meramu makanan. Kecakapan, kekuatan, dan keberanian sangat diperlukan dalam menjalani hidupnya.

“Mereka memilih gua sebagai tempat berlindung dan tempat tinggal untuk menghindari hujan, terik matahari, dan binatang buas. Di dalam gua tersebut, mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan lingkungan
guanya,” ujar Cecep.

Di dalam gua, Cecep meneruskan, mereka melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, seperti istirahat, memasak, membuat alat-alat, dan tidak jarang pula membuat gambar atau lukisan di dinding-dinding gua. “Objek yang digambarkan umumnya berkaitan dengan kehidupan berburu, khususnya binatang buruan. Selain itu, sering
juga ditemukan gambar abstrak telapak tangan,” lanjut penerima Hibah Pengembangan Materi Terbuka (Open Content) 2018 dari FIB UI ini.

Pada pembelajaran kali ini, Cecep memfokuskan pembahasan mengenai gambar telapak tangan manusia prasejarah yang sering disebut juga dengan cap tangan, cetakan tangan, lukisan cap tangan, atau lukisan tangan. Dalam istilah asing, cap tangan disebut hand stencil atau negative hand stencil.

“Hand stencil dibuat dengan cara menyemprotkan atau menyemburkan zat warna pada tangan yang kemudian ditempelkan pada dinding gua,” jelas Cecep.

Cecep menambahkan, ada pula yang disebut positive hand stencil atau hand print. Hand print dibuat dengan cara memberikan warna di bagian telapak tangan. Lalu, ditempelkan di dinding gua. Hand print lebih sedikit ditemukan pada gua-gua peninggalan manusia prasejarah dibandingkan dengan hand stencil.

Hand stencil, kata Cecep, bersifat universal. Maksudnya, bisa ditemukan di banyak negara di benua Eropa, Afrika, Australia, dan Asia. Selain itu, bentuknya pun relatif sama, yakni telapak tangan atau telapak tangan hingga lengan.

“Indonesia termasuk negara yang terbanyak ditemukannya hand stencil. Situs-situs hand stencil di Indonesia tersebar di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua Barat. Di Sulawesi Selatan, situs-situs tersebut terdapat di Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, dan Kabupaten Bone. Di Kaliman Timur, terdapat di Kabupaten Kutai dan Kabupaten Berau. Di wilayah Maluku, terdapat di Kepulauan Kei dan di Papua Barat terdapat di Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Fak-Fak, dan Kabupaten Kaimana,” ungkapnya.

Ia meneruskan, ada dua karakteristik peninggalan hand stencil yang ditemukan di Indonesia. Di wilayah Sulawesi
Selatan dan Kalimantan Timur, hand stencil umumnya ditemukan di beberapa bagian di gua. Sementara itu, hand stencil di wilayah Maluku dan Papua Barat ditemukan di dinding tebing.

Lalu, apa fungsi atau makna hand stencil? Untuk menjawab hal ini, kata Cecep, bisa merujuk pada data etnografi. Lebih jelasnya merujuk pada tradisi serupa yang masih dijumpai sekarang. Salah satu tradisi itu adalah mabedda
bola, tradisi memasuki rumah baru pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Pada tradisi ini, istri kepala rumah tangga dan anaknya yang belum mengalami menstruasi pada anak perempuannya membuat cap tangan pada tiang-tiang rumah untuk menolak bala.

“Kita dapat menganalogikan bahwa fungsi dan makna gambar telapak tangan pada masa prasejarah mungkin juga untuk menolak bala,” imbuhnya.

Sumber: ovis.ui.ac.id

Bagikan artikel ini: