Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc. telah melewati berbagai perjuangan hingga bisa berada di posisinya saat ini. Pendidikan keluarga menjadi bekal yang penting dalam membentuk karakter diri dan mengarungi kehidupan.
Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc. lahir di Pemalang, 21 September 1970. Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana dan membentuknya menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan pekerja keras. Pria yang akrab disapa Abdul Haris ini merantau ke Jakarta pada tahun 1988 untuk berkuliah Sarjana dan Master di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Indonesia (UI). Lalu, ia melanjutkan pendidikan doktor dalam bidang Geofisika di Kiel University, Jerman.
MEMBAWA PERUBAHAN
Sebelum diamanahkan menjadi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Abdul Haris sempat menjabat sebagai Dekan FMIPA dua periode dan Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi. Sebagai Dekan FMIPA UI, beliau berhasil menorehkan prestasi dan membawa sejumlah perubahan.
Melalui kemitraan strategis dengan berbagai pihak seperti Pertamina dan Sinar Mas Group, beliau berhasil mendirikan dua gedung laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina-FMIPA UI. Sementara dalam hal akademik, Abdul Haris berhasil menjadikan FMIPA sebagai penghasil publikasi terbesar kedua di UI sehingga berdampak pada peningkatan guru besar hingga 117%. Dalam hal keprofesian, Abdul Haris juga tercatat aktif tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) sebagai Vice President.
Begitu pun saat ditugaskan menjadi Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, Abdul Haris berhasil menunjukkan kontribusi signifikan para peneliti dan inovator UI dalam upaya penanganan Covid-19 di tanah air. UI berhasil melakukan berbagai riset guna kemandirian produksi dalam negeri terkait alat-alat kesehatan dan obat-obatan, serta penunjang kesehatan lainnya. “Kami melihat pandemi Covid-19 kemarin sebagai tantangan untuk membuktikan kontribusi riil para akademisi dan peneliti perguruan tinggi bagi permasalahan bangsa,” ujar Abdul Haris.
GLOBAL ENGAGEMENT
Sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, ia berupaya membawa UI ke kancah pendidikan tinggi global. Oleh sebab itu, sinergi dengan berbagai stakeholder, baik dalam dan luar negeri, merupakan suatu keharusan. Belum lama ini, contohnya, Abdul Haris mengunjungi beberapa universitas mitra di Australia, Swiss, dan AmerikaSerikat dalam rangka pengembangan program Kelas Khusus Internasional (KKI), Pendidikan Vokasi, dan internasionalisasi. Menurutnya, “Di tengah perkembangan global yang membuat kita kian terhubung dan saling tergantung, kemitraan global adalah cara untuk meningkatkan sumber daya akademik sekaligus memperluas dampak institusi”.
Di bawah kepemimpinan Abdul Haris, UI menginisiasi program-program internasionalisasi, seperti UI GREAT dan UI SHINE. UI GREAT adalah beasiswa penuh bagi mahasiswa dari negara lain untuk menempuh studi pascasarjana selama dua semester di UI, sedangkan UI SHINE adalah beasiswa pertukaran mahasiswa non-gelar. Sejalan dengan ikhtiar mendorong para mahasiswa UI untuk belajar ke seluruh dunia, Abdul Haris juga aktif mengajak mahasiswa untuk mengikuti student exchange melalui skema Indonesian Internasional Student Mobility Awards (IISMA) Kemdikbudristek. Perhatian beliau yang begitu besar terhadap program ini misalnya ditunjukkan dengan menyelenggarakan beasiswa tes kemampuan berbahasa Inggris, yang merupakan prasyarat mengikuti pertukaran mahasiswa di atas.
“Mahasiswa UI yang belajar di luar negeri akan membawa efek domino dan manfaat yang sangat banyak bagi institusi. Mereka bisa menjadi duta untuk memperkenalkan UI di universitas dan negara dimana mereka berada, sekaligus menjadi duta Pancasila, moderasi beragama, dan nilai-nilai luhur Indonesia di kancah dunia.” tuturnya.
PEMBINAAN MAHASISWA
Prioritas Abdul Haris yang lainnya adalah peningkatan prestasi dan pembinaan karakter mahasiswa. Karena itu, sejak ditugaskan menjadi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Abdul Haris segera membenahi tata kelola pembinaan unit kegiatan dan organisasi mahasiswa. Menurutnya, sumber daya terbesar suatu universitas adalah mahasiswanya, sehingga perlu program yang terstruktur, terencana, dan berkelanjutan dalam menanamkan karakter mahasiswa menjadi pribadi yang berkepribadian luhur, berketerampilan profesional, dan berintelektualitas global.
Abdul Haris menyadari bahwa universitas perlu mendukung dan memfasilitasi secara penuh seluruh potensi dan minat mahasiswa. Karena itu, ia memberikan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada para mahasiswa UI yang berhasil mengharumkan nama almamater di tingkat nasional dan internasional. Bahkan, beberapa kali beliau mengundang mahasiswa berprestasi tersebut untuk hadir di ruangannya dan menyampaikan apresiasi secara langsung. “Apresiasi dan rekognisi terhadap prestasi mahasiswa semoga dapat menjadi motivasi bagi yang bersangkutan untuk terus berkontribusi dan memaksimalkan potensi, serta sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya agar berani bermimpi.”
REPUTASI INTERNASIONAL
Muara dari upaya peningkatan global engagement dan prestasi mahasiswa adalah reputasi akademik UI di tingkat internasional. Menurut Abdul Haris, reputasi akademik adalah apa yang terlintas di benak komunitas akademisi dunia ketika mendengar UI. Oleh karena itu, keterlibatan UI dalam agenda global seperti SDGs, penelitian tentang masalah dunia seperti halnya vaksin Covid-19, serta mobilitas dosen dan mahasiswa di tingkat internasional mutlak diperlukan untuk memperbanyak portofolio UI. “Reputasi adalah kunci kesuksesan institusi. Melalui reputasi yang bagus, semakin banyak akademisi UI yang dipercaya untuk terlibat dalam jejaring penelitian internasional. Melalui reputasi yang bagus, semakin besar kesempatan mahasiswa UI untuk melakukan pertukaran dan melanjutkan studi ke kampus unggulan dunia. Melalui reputasi yang bagus, mitra dari dunia usaha dan dunia industri akan berbondong-bondong berinvestasi pada pengembangan pendidikan dan riset, karena mereka percaya bahwa UI adalah institusi yang kredibel dan berintegritas.” Beliau menambahkan “Membangun reputasi butuh dedikasi dan konsistensi jangka panjang. Citra memang bisa dipoles, tapi reputasi dibangun dengan rekam jejak” pungkasnya.

