Vokasi UI Serap Ilmu dari Praktisi

Pada akhir Januari 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meluncurkan Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Bagaimana penerapannya di Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) sejauh ini?

LIMA DARI DELAPAN ASPEK

Menurut Direktur Program Pendidikan Vokasi UI Padang Wicaksono, S.E., Ph.D, konsep MBKM pas sekali dengan Program Pendidikan Vokasi UI. Pasalnya, Program Pendidikan Vokasi UI telah menjalankan lima dari delapan aspek MBKM. Kelima aspek yang dimaksud adalah magang/praktik kerja, proyek di desa, kegiatan wirausaha, penelitian/riset, dan pertukaran pelajar (exchange student).

Dari kelima aspek yang telah dijalankan tersebut, Padang meneruskan, beberapa di antaranya bersifat wajib, seperti magang. Selama ini, magang memiliki bobot nilai 10 sampai 20 SKS. Ia mengaku, Vokasi UI sedang mengevaluasi bobot nilai tersebut karena magang berlangsung minimal empat sampai enam bulan. Peserta didik pun mengikuti jam kerja di tempat magangnya dari Senin hingga Jumat.

“Jika dikonversi, peserta didik Vokasi UI tidak semata-mata praktik saat magang. Jadi, ada aspek knowledge juga. Saat mulai magang, awalnya dia mungkin belajar dulu, ada teorinya. Supervisor di tempat magangnya bisa menjelaskan terlebih dahulu. Lalu, baru praktik. Dalam perjalanannya, peserta didik yang magang juga akan belajar mengenai hubungan dengan kolega dan pimpinan di tempat magangnya. Ini kan attitude. Jadi, magangnya bukan basa-basi. Ini yang saya maksud dengan pas sekali,” paparnya.

Magang ini, lanjut Padang, sudah diterapkan Vokasi UI sebelum MBKM berlaku. Begitu pula dengan proyek di desa. Ia mencontohkan, belum lama ini Vokasi UI menjalin kerja sama dengan Perum Jasa Tirta I dan Inalum. Kerja sama tersebut berupa pengembangan wisata Desa Tanjung Bunga di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.

“Kami menyiapkan mahasiswa/i yang siap terjun ke industri. Bukan sekadar yang mengejar IPK. Tapi, juga memiliki kepekaan sosial dan aspek social impact. Plus, kami membekali mahasiswa/I dengan skill. Pas di situ,” tegasnya.

BERBASIS EMPIRIS

Padang menambahkan, sebagian besar dosen di Vokasi UI dulunya adalah praktisi yang sekarang telah menjadi dosen tetap. Selain itu, sejumlah praktisi terkenal beberapa kali diundang dalam kuliah umum sebagai dosen tamu, seperti Riri Riza, Reza Rahadian, dan Dian Sastro.

“Jadi, background memang praktisi, tapi kemudian ‘hijrah’ menjadi dosen tetap. Kemitraan dengan praktisi ada. Dengan begitu, hampir setiap mata kuliah, kami menyisipkan praktisi di dalamnya sebagai tim pengajar,” ujarnya.

Meski dominan praktik, kata Padang, ada yang membedakan Vokasi UI dengan fakultas-fakultas lain di UI.

“Kami berbasis empiris. Maksudnya, ada suatu fakta yang akan ditelaah, dibahas, atau dipelajari di dalam kelas. Jadi, intinya berbasis fakta,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, keberadaan dompet digital yang nyaris tanpa melibatkan institusi keuangan konvensional. Keberadaan platform-platform dompet digital juga bisa menjadi tantangan menyangkut relevansi jenis pekerjaan.

“Intinya, kami menyiapkan para lulusan kompeten, siap terjun ke industri yang bisa jadi memiliki profesi baru akibat disrupsi teknologi. Jadi, para lulusan Vokasi UI bisa dibilang memiliki nilai tambah, yakni menjadi pekerja yang terampil secara intelektual (intellectually skilled worker),” tutupnya.

Bagikan artikel ini: