Ventilator UI Beri Manfaat Bagi Masyarakat Luas

Tidak lama setelah kasus pertama Covid-19 di Indonesia terdeteksi, Universitas Indonesia (UI) segera bertindak. Salah satu tindakan konkret itu adalah membuat ventilator.

Ventilator itu bernama COVENT-20. Produk inovasi alat kesehatan dari peneliti UI ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Teknik (FT) UI, Fakultas Kedokteran (FK) UI, dengan dukungan pendanaan dari Bidang Riset dan Inovasi melalui Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP) UI.

Ketua Tim Ventilator UI dan Ketua Program Studi Teknik Biomedik FTUI Dr. Basari, S.T., M.Eng mengisahkan, COVENT-20 mulai dibuat saat awal pandemi Covid-19, tepatnya Maret 2020.

“Pada tanggal 2 Maret 2020, ada dua orang di Depok yang terkonfirmasi positif. Kami ‘ditantang’ oleh FTUI untuk memberikan kontribusi dalam menghadapi situasi kala itu. Pada saat itu, banyak yang membutuhkan perawatan oksigen. Jumlahnya terus bertambah. Salah satu alat kesehatan yang dapat membantu perawatan pasien yang membutuhkan oksigen adalah ventilator,” ungkap Basari.

Mengapa ventilator? Basari menjawab, pasien yang terpapar Covid-19 mengalami kesulitan bernafas karena ada hambatan di saluran pernafasan, seperti lendir.

Ventilator dapat membantu oksigenisasi atau bantuan suplai oksigen ke paru-paru. Ventilator adalah alat vital untuk mempertahankan kondisi pasien Covid-19. Dari situlah muncul ide kami untuk membuat ventilator,” ujarnya.

PEMBUATAN HANYA SATU BULAN

Pada tanggal 20 Maret 2020, Basari meneruskan, terbentuk tim yang awalnya hanya berjumlah empat orang. Anggotanya dosen dan praktisi alat kesehatan. Pada saat itu, Pemerintah juga telah menetapkan pembatasanbepergian. Kampus UI Depok saat itu juga lockdown.

“Awalnya, pekerjaan dilakukan di rumah masing-masing. Rapat untuk diskusi dilakukan secara online. Seiring waktu, kami menilai pembuatan ventilator tidak bisa dilakukan full online. Akhirnya, kami melanjutkan pembuatan ventilator di kampus yang sekaligus kami jadikan basecamp. Kami bekerja dari pagi sampai malam, ngebut, termasuk Sabtu dan Minggu. Pembuatan ventilator ini memakan waktu sekitar satu bulan,” lanjutnya.

Pada bulan April 2020, Basari menambahkan, pembuatan COVENT-20 sudah rampung meskipun masih berupa prototipe.

“Lalu, COVENT-20 menjalani uji performa produk di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Jakarta. Di situ diuji kinerjanya, kelistrikannya dan sebagainya. Uji performa ini memakan waktu 10 hari dan COVENT-20 dinyatakan lulus pada 4 Mei 2020,” tuturnya.

TELAH DIDISTRIBUSIKAN KE BERBAGAI WILAYAH

COVENT-20 adalah ventilator emergency. Basari berujar, COVENT-20 menggunakan sumber tenaga berupa baterai yang dapat bertahan hingga empat jam. COVENT-20, Basari menjabarkan, memiliki dua fitur, yakni mode ventilasi CMV (Continuous Mandatory Ventilation) dan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Mode CPAP digunakan untuk pasien yang masih sadar. Sementara itu, mode CMV digunakan untuk pasien hilang kesadaran dengan gejala pneumonia yang mengalami kesulitan pernafasan.

Selain uji performa, Basari menyampaikan, COVENT-20 juga menjalani pra-uji klinis dengan hewan percobaan di Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran UI dan dinyatakan lulus.

Tak hanya itu, COVENT-20 juga dinyatakan lulus uji klinis manusia untuk mode ventilasi CMV dan CPAP dari Kementerian Kesehatan RI pada 15 Juni 2020. Uji klinis manusia ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.

Hasil uji performa dan uji klinis menjadi dasar keluarnya izin edar untuk COVENT-20. COVENT-20 juga sudah didaftarkan Hak Paten, Hak Cipta, Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Hak Desain Industri sejak Mei 2020.

“Pada Juni hingga Desember 2020, UI memproduksi 300 unit ventilator yang dana pembuatannya diperoleh dari hasil penggalangan donasi (crowdfunding) terhadap beberapa perusahaan dan komunitas di bawah koordinasi Ikatan Alumni Fakultas Teknik UI (Iluni FTUI). “Saat penggalangan dana ini juga banyak pihak yang ingin terlibat langsung dan bergabung dalam tim, termasuk mahasiswa dan sukarelawan,” kata Basari.

Tiga ratus unit ventilator ini telah didistribusikan ke berbagai rumah sakit rujukan Covid-19 dan rumah sakit darurat di sejumlah wilayah di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Distribusi ini juga dibantu oleh banyak pihak, termasuk TNI.

TERUS DIKEMBANGKAN

“Kemudian, kami berpikir untuk memberi manfaat yang lebih besar. Maksudnya, ventilator ini perlu diproduksi secara massal dan dikomersialkan. Alhamdulillah, ada entitas alat kesehatan yang berminat, yakni CV Bartec Utama Mandiri. Komersialisasi ini telah dimulai pada bulan Juni 2021 setelah kami mengantongi izin edar untuk mengomersialkannya,” Basari mengungkapkan.

Ventilator ini sudah bisa dipesan melalui aplikasi belanja daring yang dikelola Pemerintah atau Elektronik Katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pemerintah (E-Katalog LKPP) sejak pertengahan 2021. Penjualan Ventilator COVENT-20 telah mencapai 49 unit pada tiga bulan pertama. Universitas Indonesia (UI) juga telah menerima royalti dari CV Bartec Utama Mandiri atas hasil penjualan Ventilator COVENT-20 baru-baru ini.

Saat ini, kata Basari, COVENT-20 terus dikembangkan. UI sendiri telah menginvestasikan dana sebesar Rp446.475.000,00 untuk pengembangan Ventilator COVENT-20 tahun 2020 dan terus mendukung pengembangan ventilator selanjutnya.

“Salah satu pengembangan yang masih dilakukan ialah menambah fitur baru, yakni SIMV (Synchronous Intermittent Mandatory Ventilation). Fitur ini bisa mendeteksi pasien yang saat diberikan bantuan nafas tidak sadar kemudian tiba-tiba sadar. Pengembangan lainnya adalah COVENT-20 nantinya akan dilengkapi dengan layar sentuh (touchscreen) agar lebih user friendly. Kemudian, ada juga usulan dari tim dokter untuk menampilkan grafik untuk memonitor pasien,” jelas Basari.

 

Bagikan artikel ini: