Transaura, Alat Penerjemah Bagi Tunarungu

Penyandang disabilitas tunarungu memiliki gangguan dalam pendengaran, baik permanen maupun tidak permanen. Adanya gangguan pendengaran pada individu tersebut dapat memunculkan hambatan, seperti komunikasi. Oleh sebab itu, alat bantu diperlukan untuk membantu penyandang tunarungu berkomunikasi.

Inilah yang melatarbelakangi Tim Transaura untuk menciptakan alat penerjemah bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu. Alat bantu itu bernama Transaura. Tim Transaura sendiri terdiri dari Daffa Fairuzaufa Athallah Raharjo (Fakultas Teknik UI, 2020), Aine Shahnaz Tjandraatmadja (Fakultas Ilmu Keperawatan UI, 2020), dan Almaz Scarletta Tjakrashafanti (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, 2018).

DAPAT DIBAWA KE MANA-MANA

Transaura memanfaatkan teknologi TensorFlow dan Raspberry Pi. Daffa, pencetus ide Transaura menyampaikan, banyak penyandang tunarungu yang lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB) sulit mendapat pekerjaan atau mengakses berbagai sarana publik. Kesulitan ini disebabkan oleh terhambatnya komunikasi. Maka, Transaura diharapkan dapat membantu mereka berkomunikasi dua arah.

Ketua Tim Transaura, Aine menuturkan, Transaura dapat digunakan di area perkantoran, supermarket, dan sarana transportasi karena pada dasarnya alat ini berbentuk portable box sehingga bisa dibawa ke mana- mana.

Dengan Transaura, diharapkan dapat tercipta kesetaraan bagi penyandang disabilitas pada berbagai lapangan kerja, sesuai dengan namanya Transaura (translating aura). Kesempatan dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas menjadi titik tumpu dari penelitian ini,” katanya.

MERAIH KESETARAAN DI LAPANGAN KERJA

Anggota Tim Transaura yang lain, yakni Almaz menyampaikan bahwa dalam sistem yang dikembangkan ada dua layar di depan dan belakang sehingga memungkinkan dilakukannya komunikasi dua arah. Layar pertama akan menjadi tempat penerjemah bahasa isyarat menggunakan deteksi objek dengan bantuan TensorFlow.

“Layar kedua akan mengeluarkan teks yang terletak pada sisi belakang alat tersebut. Komponen utama yang menjadi otak dari Transaura adalah microprocessor Raspberry Pi,” jelasnya.

“Awal dari ide prototipe Transaura adalah untuk memudahkan teman tuli dalam berpendapat dan berkomunikasi dengan sesama pekerja sehingga membantu meraih kesetaraan di lapangan kerja,” ujar Daffa.

Dalam pengembangan alat bantu ini, Tim Transaura turut dibimbing oleh Dodi Sudiana, seorang pakar image processing dan juga dosen Teknik Elektro UI. Tim Transaura empat meraih juara ketiga tingkat nasional pada kompetisi hibah untuk penelitian nasional, Tanoto Student research Awards 2021, di bidang appropriate technology.

Puji Tuhan, saat ini, prototipe Transaura sedang dalam tahap pengembangan oleh bantuan P5 UI (Program Pendanaan Perancangan dan Pengembangan Purwarupa) melalui Direktorat Inovasi dan Science Techno Park. Harapan kami, melalui pengembagan ini, prototipe Transaura dapat dibuat lebih portable dan ringan sehingga dapat digunakan oleh teman tuli sehari-hari,” pungkas Aine.

Bagikan artikel ini: