Memasuki tahun ketiga di era Pandemi COVID-19, saat ini muncul informasi terbaru mengenai dampak yang lebih signifikan dari Varian Omicron. Lalu, seberapa bahaya kah varian tersebut ketika menjangkit tubuh manusia?
Dikutip dari laman resmi www.cdc.gov, fakta tersirat bahwa Varian Omicron menyebar lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. Belum usai ramai isu Varian Omicron, info terbaru mengabarkan bahwa muncul varian terbaru yang sempat menghebohkan jagat bernama “Delmicron”. Varian tersebut disinyalir merupakan hasil dari perpaduan antara varian Delta dan Omicron.
Menanggapi isu tersebut, dr. Hario Baskoro, Sp.P, Ph.D selaku Dokter Spesialis Paru di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) turut buka suara atas maraknya isu hangat tersebut. dr. Hario mengatakan, “Masyarakat diimbau agar tidak cepat termakan informasi mengenai varian tersebut. Perlu dipilah sumber yang memberitakan hal-hal terkait variasi baru COVID-19, karena hingga saat ini masih banyak penelitian yang sedang dilakukan untuk membuktikan tingkat risiko yang ditimbulkan oleh varian tersebut secara valid,” ujarnya.
Selain itu, dr Hario pun mengimbau kepada setiap individu agar mampu menjadi agen edukasi tentang COVID-19. Dalam hal membedakan antara fakta dan hoax dari informasi tentang Varian Omicron yang beredar, sebaiknya masyarakat cukup mencari info melalui akun media sosial terpercaya, seperti dari Kemenkes atau WHO.
Lalu, apa saja fakta mengenai COVID-19 Varian Omicron? Berikut paparan yang telah diberikan oleh dr. Hario:
FAKTA MENGENAI OMICRON:
- Dikutip dari laman situs resmi www.cdc.gov, Varian Omicron menyebar lebih cepat dari varian COVID-19
lainnya. - Hingga awal tahun 2022, belum ada bukti ilmiah mengenai penggabungan varian delta dan omicron. Namun saat ini masih banyak dilakukan penelitian secara mendalam.
- Berdasarkan situs resmi www.who.int, semakin massive peredaran dari Omicron, semakin besar peluang varian tersebut untuk bermutasi dan beradaptasi hingga memunculkan varian baru.
GEJALA BAGI PARA PENDERITA:
- Terdapat gejala ringan, berat bahkan kematian. Hal ini dipengaruhi oleh status vaksinasi, usia, komorbid,
dan beberapa variabel lainnya. - Pada kategori lansia, pasien komorbid (DM, HT, TBC, HIV, autoimun), atau pada anak-anak yang merupakan kelompok rentan, gejala yang muncul bisa saja tidak ringan.
Dari beberapa fakta dan gejala yang disebabkan oleh Varian Omicron, dr Hario menyinggung betapa pentingnya melakukan pencegahan dan meminimalisir risiko yang ditimbulkan dari varian tersebut, salah satunya melalui vaksinasi lengkap hingga booster.
Selain mencegah risiko dari gejala yang ditimbulkan, dr. Hario pun memberikan tips kepada seluruh golongan masyarakat agar tidak cepat termakan hoax mengenai isu Varian Omicron, diantaranya:
Cari tahu segala informasi mengenai COVID-19 dari sumber terpercaya yang mencantumkan bukti ilmiah.
Bila sulit mencari sumber ilmiah, masyarakat dapat mengikuti berbagai laman resmi pemerintah, seperti Kemenkes, WHO dan CDC.
Masyarakat harus bijak dalam menyebarkan informasi yang didapatkan. Jangan pernah menyebarluaskan berita yang masih simpang siur atau informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Adapun beberapa tips dari dr. Hario untuk menjaga tubuh tetap prima, yaitu:
“Jangan panik apabila terdapat indikasi gejala positif. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, isolasi mandiri di rumah, memperketat dan tetap disiplin pada protokol kesehatan,” pungkas dr Hario.



