“The devil is in the details”. Itulah kalimat yang terlontar dari Wakil Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Universitas Indonesia (UI) Dony Abdul Chalid Ph.D. mengenai penerapan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Terdengar menyeramkan, bukan? Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pernyataan Dony tersebut?
“Program yang baik seperti MBKM perlu didukung proses perencanaan yang detil dan baik sehingga implementasi bisa berjalan dengan baik dan tujuannya tercapai. Sesuatu yang kadang dianggap mudah, sering kali menantang ketika ingin diwujudkan. Perbedaan karakteristik bidang ilmu, strata pendidikan dan sebagainya membuat MBKM perlu diimplementasikan berbeda sesuai kondisi yang dihadapi. Koordinasi juga perlu ditingkatkan untuk mendukung pencapaian hasil yang baik. Sosialisasi kepadamahasiswa dan industri juga perlu ditingkatkan agar keduanya memiliki persepsi yang sama,” jelasnya.
Dony meneruskan, SIL UI memandang MBKM bisa mendukung peningkatan relevansi dari luaran proses pendidikan di perguruan tinggi, termasuk di SIL. Meskipun kegiatan MBKM saat ini lebih banyak ditujukan untuk prodi di tingkat S1, namun paradigma MBKM juga digunakan untuk kegiatan di prodi tingkat S2 yang dimiliki oleh SIL.
“Salah satu tujuan pembelajaran di SIL adalah menghasilkan lulusan yang bisa berkontribusi dalam penyelesaian isu lingkungan di masyarakat. Konsep pada MBKM dapat membuat mahasiswa lebih bisa menangkap isu yang berkembang dan memahaminya. Selain itu, program Merdeka Belajar membuat mahasiswa memiliki berbagai perspektif bidang ilmu yang bisa digunakan untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip multidisiplin yang dimiliki SIL,” Dony mengungkapkan.
TANTANGAN PENERAPAN MBKM
Mahasiswa, lanjutnya, didorong untuk aktif terlibat dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, baik oleh para dosen secara individu maupun melalui klaster riset. Pada UKK yang dimiliki SIL, mahasiswa diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan penelitian, konsultasi, dan pengabdian masyarakat. Tak hanya itu, mahasiswa juga didorong untuk mengikuti mata kuliah di luar yang mereka perlu ambil untuk persyaratan lulus. Menariknya, SIL juga membuka kesempatan mahasiswa dari prodi lain (lintas fakultas/sekolah) untuk mengikuti kelas yang dikelola oleh prodi-prodi di bawah SIL.
Dony mengakui, penerapan MBKM di SIL UI tak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah SKS untuk program magister. Kondisi ini membuat sulit bagi prodi untuk bisa mendedikasikan SKS khusus terkait MBKM kepada mahasiswa.
“Karena jika mahasiswa mengambil mata kuliah lain di luar yang terdapat dalam kurikulum, maka ada risiko mahasiswa tidak memperoleh pendidikan pendukung yang cukup untuk bidangnya. Akibatnya, meskipun memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti kelas di prodi lain, maka perlu diarahkan agar bisa sesuai dengan kebutuhan pencapaian kompetensinya,” ujarnya.
Tantangan lain, tambah Dony, terkait jumlah kegiatan yang dimungkinkan untuk mahasiswa S2 dan S3 tidak sebanyak jika dibandingkan dengan mahasiswa S1. Hal ini karena sebagian besar mahasiswa di tingkat S2 dan S3 sudah bekerja sehingga beberapa kegiatan yang yang bisa dilakukan pada mahasiswa S1 menjadi tidak memungkinkan bagi mahasiswa S2 dan S3, seperti magang.


