Tiga mahasiswi Program Studi Teknik Biomedik pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) keluar sebagai Juara Tiga EXPECTO 2022, sebuah lomba esai bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh SCOPE dari Center for Indonesian Medical Student Activities (CIMSA) Universitas Airlangga pada 19–23 Januari 2022.
Ketiga mahasiswi yang dimaksud adalah Khansa Nitisara Ramadhani, Yasmina Ashfa Zahidah, dan Raissa Azarine. Sebelum mengikuti ajang yang bertema Accessibility Issues Surrounding Universal Health Coverage in Indonesia and Its Solution ini, ketiganya belum memiliki nama tim.
“Sebenarnya, kami tidak memiliki nama tim. Tetapi, di babak final saat presentasi, kami disebut sebagai Tim 04,” kata Khansa.
Esai mereka pada ajang EXPECTO 2022 adalah upaya menyempurnakan aplikasi PeduliLindungi. Menariknya, ide ini tercetus dari pengalaman pribadi masing-masing.
“Kami mengalami hal yang sama saat masa pandemi Covid-19, yaitu ritual memindai QR code pada poster PeduliLindungi. Hal ini membuat kami menjadi ‘pengguna setia’ aplikasi ini karena harus menggunakannya setiap bepergian. Kami merasa aplikasi ini memiliki banyak potensi untuk berkembang sehingga hal ini menjadi ide untuk memperkaya fitur aplikasi tersebut,” ungkap Khansa.
EMPAT SOLUSI
Pada ajang ini, ketiga mahasiswi tersebut menawarkan empat solusi untuk menyempurnakan aplikasi PeduliLindungi. Solusi pertama adalah fitur live location.
“Bila pengguna terdeteksi Covid-19, maka orang-orang di sekitarnya dalam kurun waktu dekat akan diberi notifikasi untuk melakukan prosedur tes Covid-19 dan meminimalisir kontak dengan pihak lain. Fitur ini ditawarkan agar plotting kasus lebih efektif dan penyebaran Covid-19 dapat lebih terkendali,” jelas Yasmina.
Solusi kedua, lanjutnya, adalah registrasi fasilitas karantina. Fitur ini menyediakan sistem pemesanan fasilitas karantina berbasis aplikasi lengkap dengan harga dan hal-hal yang didapat selama karantina.
“Solusi ketiga adalah fitur pemberian layanan dan produk kesehatan secara door to door. Pada fitur ini, selain dapat memesan layanan kesehatan di rumah, pengguna juga bisa memesan obat yang akan dikirim ke tempat pengguna berada,” ujar Yasmina.
Solusi terakhir, tambahnya, adalah fitur lock system. Pada fitur ini, akan diberikan sistem penguncian aplikasi PeduliLindungi secara otomatis untuk pengguna yang sedang menjalani karantina.
“Fitur ini ada sebagai bentuk tindakan preventif untuk meminimalisir adanya kasus kabur dari karantina,” Yasmina menjelaskan.
“Menurut kami, solusi yang kami tawarkan memiliki fleksibilitas tinggi untuk dikembangkan ke berbagai penyakit lain yang penyebarannya cepat dan membutuhkan pencegahan mobilitas individu sebagai solusi utamanya,” tutup Raissa.


