Solusi Pengawetan Ikan Natural & Aman

Bahaya formalin mengintai di sekitar kita. Formalin bisa saja masuk ke dalam tubuh kita dari berbagai sumber. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari potensi masuknya formalin ke dalam tubuh. Maka, perlu penyebarluasan solusi mengenai bahaya formalin.

Penyampaian solusi ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, seperti lewat poster. Inilah yang dilakukan oleh Farhan Tyo Zahid Akbar, Haidar Hilmi Ramadhan, dan Marchella Immanuel Heriyanto saat membuat poster yang berjudul “Keep Yourself Healthy and Keep the Freshness of the Fish You Eat with C.E.C.E.P: Chitosan Edible Coating for Early Preservation”. Melalui karya tersebut, ketiganya meraih medali emas Poster Competition International Research Innovation for Agritech Development dengan sub tema Food and Health Security pada kompetisi Agritech Research and Entrepreneurship Innovation(Agreetion) 2022.

KERJA SAMA TIM

Farhan Tyo Zahid Akbar, Haidar Hilmi Ramadhan, dan Marchella Immanuel Heriyanto adalah mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan tahun 2021. Marchella Immanuel Heriyanto yang akrab disapa Chella menyampaikan, kompetisi Agreetion 2022 memang kental dengan bidang pertanian. Tapi, ada sub tema di ajang tersebut yang memiliki korelasi dengan disiplin ilmu yang sedang mereka tempuh, yakni kesehatan.

“Kami cari tahu masalah-masalah di sektor pangan dan kesehatan. Kami akhirnya menemukan bahwa penyalahgunaan formalin pada makanan adalah masalah seirus. Indonesia sendiri adalah salah satu negara maritim yang memiliki banyak ikan di wilayahnya. Ikan cukup rentan terhadap pembusukan (dekomposisi). Banyak pedagang yang menggunakan formalin pada ikan agar kesegarannya lebih tahan lama. Padahal, mengonsumsi ikan yang mengandung formalin sangat berbahaya bagi kesehatan jangka panjang,” papar Chella.

Ide itulah yang mendasari ketiganya dalam kompetisi Agreetion 2022. Setelah menemukan ide, lanjut Chella, mereka juga menyampaikan solusi pengawetan ikan yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Maka, tercetuslah C.E.C.E.P: Chitosan Edible Coating for Early Preservation.

“Chitosan merupakan material alami dari tepung singkong yang dapat digunakan untuk membuat Edible Coating agar sebuah bahan tetap dapat dijaga kesegarannya dalam jangka waktu yang panjang. Kami memberikan solusi dan juga sebuah ide agar hal ini dapat diaplikasikan pada bahan pangan yang ada di Indonesia, terutama ikan yang kaya jumlahnya,” ungkap Farhan Tyo Zahid Akbar yang biasa dipanggil Tyo ini.

‘TIGA MATAHARI’

Dalam menghadapi kompetisi Agreetion 2022, Chella menambahkan, dia dan kedua rekannya berbagi peran.

“Tyo dan Hilmi lebih ke riset. Kalau saya yang mengeksekusi pesan yang ingin disampaikan dari hasil riset ke dalam bentuk poster,” jelasnya.

“Kami melakukan riset dari berbagai jurnal ilmiah yang telah vertified dan keluaran terbaru, yakni dalam lima tahun terakhir. Kami fokus mencari bahan apa yang bisa menjaga kesegaran pada makanan, terutama makanan laut, seperti ikan. Kami menemukan ada zat yang bernama Chitosan,” timpal Hilmi.

Tyo mengaku, saat mengikuti Agreetion 2022, belum ada nama tim untuk ketiganya karena berfokus menampilkan yang terbaik pada ajang tersebut.

“Kini, kami telah memiliki nama tim, yakni ‘Tricalis’. ‘Tricalis’ berasal dari bahasa Latin, yakni ‘Tri Clara Solis’ atau ‘tiga matahari penerang’ sehingga ‘Tricalis’ memiliki makna ‘tiga matahari penerang inovasi kesehatan dunia’,” ujar Tyo.

Bagikan artikel ini: