Olah Limbah Jadi Berharga

Pada tahun 2019, Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) mengunjungi sebuah kampung nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Saat kegiatan pemanenan air hujan (rain water harvesting) di sana, Tim Pengmas SIL UI mendapati bahwa banyak limbah cangkang kerang. Dari sanalah, mulai terbersit untuk mengolah limbah cangkang kerang menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih.

Setahun berselang, Tim Pengmas SIL UI melakukan kegiatan serupa di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tepatnya di RW 01. Kondisi serupa ditemui di sana, limbah cangkang kerang menggunung di sekitar kampung nelayan tersebut. Pada tahun 2019, Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) mengunjungi sebuah kampung nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Saat kegiatan pemanenan air hujan (rain water harvesting) di sana, Tim Pengmas SIL UI mendapati bahwa banyak limbah cangkang kerang. Dari sanalah, mulai terbersit untuk mengolah limbah cangkang kerang menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih.

“Di Kali Baru sudah ada tanggul. Di balik tanggul itu, masyarakatvmembuang limbah cangkangvkerang, menumpuk bukan main,”vkata Ketua Tim Pengmas SIL UI Dr. Hayati Sari Hasibuan.

Rata-rata, lanjut Dr. Hayati Sari, warga di sana dapat mengumpulkan sekitar 100 kg kerang per lapak tiap harinya. Ada sekitar 50 lapak di sana. Artinya, terdapat sekitar 5.000 kg kerang yang terkummpul per harinya. Warga setempat hanya mengupas daging kerang untuk dijual, sedangkan cangkangnya dibuang begitu saja. Daging kerang ini hanya sekitar sepertiga dari bobot kerang keseluruhan. Jadi, dua pertiga kerang yang terkumpul menjadi sampah.

DUA PROGRAM UTAMA

“Sampah cangkang kerang yang sudah termasuk limbah ini bisa menyebabkan pendangkalan air laut, sanitasi buruk, dan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat bagi warga sekitar. Karenanya, kami mencoba untuk memberdayakan warga setempat, khususnya para ibu rumah tangga, untuk mengolah limbah cangkang kerang menjadi sesuatu yang lebih berharga,” ungkap Dr. Hayati Sari.

Dr. Hayati Sari meneruskan, ada dua program utama yang diterapkan. Pertama adalah membuat limbah cangkang kerang menjadi seni kriya, seperti plakat, bingkai foto dan sebagainya. Program kedua ialah mengolah limbah cangkang kerang menjadi pupuk cair.

“Sebelum kami membuat mesin pencacah cangkang kerang, telah ada mesin serupa yang dibuat oleh pihak lain. Namun, mesin itu digunakan untuk membuat batako. Warga setempat menilai, batako tersebut jauh lebih berat bobotnya dibandingkan dengan batako yang umum dijual di pasaran. Jadi, kami membuat mesin pencacah yang dapat menghaluskan limbah cangkang kerang menjadi tepung yang selanjutnya diolah menjadi pupuk cair. Satu unit mesin pencacah ini telah kami hibahkan melalui Kantor Lurah Kalibaru. Selain itu, kami juga menghibahkan panel surya untuk kebutuhan listrik di koperasi nelayan setempat dan Buku Saku Pemanfaatan Limbah Cangkang Kerang,” ujar wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan SIL UI tersebut.

MENGINTEGRASIKAN RISET DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

Dr. Hayati Sari menyampaikan, ada sekitar 10 mahasiswa/i Magister Ilmu Lingkungan SIL UI yang terlibat dalam kedua program tersebut. Para mahasiswa/i yang terlibat ini memiliki latar belakang pendidikan beragam di jenjang
pendidikan sebelumnya.

“Ada S1 Teknik Mesin yang merancang mesin pencacah dalam pengolahan cangkang kerang menjadi pupuk cair. Lalu, ada pula S1 Teknik Kimia yang membuat cangkang kerang yang telah hancur menjadi pupuk cair. Ada juga yang dari Teknik Industri yang menjelaskan proses bisnisnya. Jadi, kami mengintegrasikan proyek riset dan pengabdian masyarakat,” Dr. Hayati Sari menjabarkan.

Selain menghibahkan mesin pencacah, memberikan edukasi serta pelatihan, Tim Pengmas SIL UI juga aktif menjalin sinergi dengan berbagai pihak, seperti Koperasi Nelayan setempat, Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lainlain.

“Kami juga berencana mengajak perusahaan-perusahaan swasta di Jakarta melalui kegiatan CSR mereka agar kedua program yang kami telah jalankan ini dapat discale up,” katanya.

Dr. Hayati Sari juga berharap, kedua program di atas dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, evaluasi adalah sesuatu yang penting.

“Kami berharap, program kriya dan pupuk cair ini bisa dirasakan manfaatnya bagi sekitar 250 rumah tangga nelayan di Kalibaru sehingga dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan baik bagi konservasi lingkungan,” tandasnya.

Bagikan artikel ini: