Apa yang terlintas di benak Anda bila mendengar ‘pandemi Covid-19’? Khawatir, masa sulit, krisis, atau lainnya? Mungkin jawabannya bisa beragam. Begitu pula arti di balik pandemi Covid-19 bagi Direktur Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) Padang Wicaksono, S.E., Ph.D
Baginya, pandemi Covid-19 adalah pencetus. Maksudnya, pandemi Covid-19 mempercepat akselerasi metode pembelajaran atau perkuliahan dengan memanfaatkan digitalisasi. Sebelum pandemi, ada istilah revolusi industri 4.0.
“Tapi, dengan adanya pandemi Covid-19, kita mau tidak mau‘dipaksa’ untuk segera beradaptasi dengan kondisi aktual. Aplikasi Zoom, misalnya, telah ada sebelum muncul pandemi Covid-19. Saya juga sudah mengaplikasikannya untuk teleconference dengan beberapa kolega di Amerika Serikat (AS). Saat pandemi Covid-19 muncul, kita memang harus mempercepat adaptasi dalam segala aspek, termasuk mengajar,” ungkap pria kelahiran Madiun, 8 November 1973 ini.
TWO-WAY COMMUNICATION
Kini, dia melanjutkan, mengajar tidak lagi bersifat one-way communication, melainkan two-way communication. One-way communication, menurutnya, sudah tidak relevan.
“Kita harus menggali talenta atau passion dari para peserta didik. Kalau boleh saya sarankan, mahasiswa/i didorong untuk sering presentasi berdasarkan tema yang ditetapkan. Kita dorong banyak melakukan dialog, menggali pendapat dari mahasiswa. Bukan kita yang selalu membicarakan pengetahuan kita. Kemudian, yang menilai juga peer, mahasiswa/i yang lain. Tapi, tetap diawasi oleh dosennya. Dua tahun terakhir ini kami banyak belajar. Menurut saya, ke depan itu trennya adalah hybrid,” papar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Vokasi UI ini.
Selain presentasi, Padang meneruskan, tentu ada juga quiz yang biasanya dilakukan mendadak dan ujian. Ujian ini, tambahnya, terbagi dua, yakni ujian tertulis dan menyusun makalah.
“Apa tujuannya? Agar mahasiswa/i mendapat aspek knowledge. Kemudian, kalau menulis makalah itu akan mengasah skill. Apa yang ada di dalam pikiran, disampaikan secara tertulis. Nah, selain knowledge dan skill, mahasiswa/I juga dapat mengembangkan attitude-nya saat presentasi. Apakah dia mendominasi? Bagaimana gesture-nya? Jadi, kita perlu menggali knowledge, skill, dan attitude,” lanjut pria yang mendapat gelar Ph.D dari the University of Tokyo dalam bidang Ekonomi Ketenagakerjaan (Labor Economics) ini.
TANTANGANNYA ADALAH MINDSET
Masih terkait pandemi Covid-19, menurut Padang, tantangannya adalah pola pikir (mindset). Lebih rinci, mengubah mindset sesuai dengan kondisi terkini. Ia mencontohkan, kini sudah makin banyak perusahaan yang tidak menomorsatukan gelar pendidikan untuk jabatan tertentu.
“Bagi orangtua, tidak perlu lagi memaksakan anaknya untuk lulus S1. Hal ini karena sekarang yang paling penting adalah pekerjanya itu layak atau tidak. Saya melihat tren di dunia, bukan di Indonesia saja, sekarang itu ada istilah over education. Ada sebuah lowongan kerja, misalnya, yang seharusnya diisi oleh lulusan D3. Namun, akhirnya ditempati oleh pekerja dengan title S1. Lowongan kerja untuk lulusan S1 ternyata diisi oleh S2 dan seterusnya. Apa sebabnya? Yang lulusan D3 mungkin kurang ‘pede’. Maka, Padang melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1. Namun, akhirnya dia kemudian mengambil pekerjaan yang sebenarnya cukup bagi lulusan minimal D3. Terjadilah downgrade. Ini kalau diakumulasi menyebabkan kerugian sosial masyarakat,” dia menjabarkan.
Oleh sebab itu, Padang menyarankan, para orang tua agar mengarahkan anaknya untuk meneruskan pendidikannya pada program studi-program studi yang memiliki potensi pekerjaan layak bagi para lulusannya. Vokasi UI memiliki kemampuan untuk hal tersebut.
Vokasi UI, Padang meneruskan, memiliki sejumlah laboratorium yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat praktikum bagi mahasiswa/i, tapi juga teaching factory. Padang mengambil contoh Vocation Wellness Center (VWC). Selain sebagai tempat praktik mahasiswa/i, sejumlah dosen juga memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas di VWC.
“Laboratorium juga bisa menjadi sumber pemasukan karena masyarakat bersedia untuk membayar. Jadi, kami kombinasikan antara aspek sosial dan yang berbayar,” ujarnya.
Untuk menghasilkan lulusan yang layak di dunia kerja, Padang menambahkan, hal lain yang tak boleh dilupakan adalah sinergitas dengan sesama institusi Pendidikan, industri, dan stakeholder lain. Dengan sinergi yang kuat, katanya, masing-masing pihak akan mendapat feedback yang bernilai strategis.
“Bagi pengelola perguruan tinggi, tidak hanya di UI, harus banyak melakukan survei terkait kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan ketersediaan program studi. Jangan membuka program studi yang hanya didasarkan pada gengsi atau ego pihak pengelola. Dikhawatirkan, program studi tersebut tidak menghasilkan apa- apa,” pesannya.


