Mengembangkan Suplemen Terapi Covid-19

Propolis telah dikenal sebagai salah satu obat alternatif sejak ribuan tahun lalu. Propolis diyakini oleh banyak orang memiliki sejumlah khasiat melawan beragam penyakit. Penemuan terbaru membuktikan propolis juga bisa menjadi suplemen terapi Covid-19.

Penelitian tersebut dikembangkan oleh seorang peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si, M. Eng. Dr. Sahlan mengaku, penelitiannya tersebut digagas sejak akhir tahun 2019, sebelum Covid-19 terdeteksi di Indonesia. Ia mengembangkan senyawa propolis asli Indonesia yang dihasilkan oleh lebah Tetragonula biroi aff, sebagai suplemen atau jamu terapi Covid-19.

AMAN DIKONSUMSI

Dr. Sahlan tidak seorang diri melakukan penelitian propolis sebagai suplemen terapi Covid-19. Dalam penelitian tersebut, ungkapnya, juga melibatkan tim dari FTUI, Fakultas Kedokteran UI, dan kalangan industri.

“Latar belakang penelitian ini karena melihat perkembangan virus Corona di akhir tahun 2019 yang berpotensi menjadi pandemi pada saat itu. Karena kami sedang meneliti propolis Indonesia dan beberapa publikasi menunjukkan bahwa propolis memiliki aktivitas antivirus, maka dimulailah penelitian mengenai potensi propolis Indonesia sebagai antivirus Corona. Maka, tujuan penelitiannya adalah melakukan eksplorasi propolis Indonesia sebagai obat asli Indonesia untuk terapi Covid-19,” Dr. Sahlan menjelaskan.

Penelitian ini, ia meneruskan, dimulai dengan pendekatan modeling (in-silico). Hasilnya menunjukkan bahwa senyawasenyawa di dalam propolis Indonesia berpotensi untuk terapi Covid-19. Dr. Sahlan menekankan, hasil penelitian tersebut bukan merupakan obat Covid-19, melainkan suplemen terapi Covid-19.

“Hasil penelitian pada uji secara in vitro dilihat dari aktivitas immunomodulatar dan antiinflamasi menunjukkan potensi yang baik. Kemudian saat ini masih melihat uji kliniknya. Hasil pendahuluan menunjukkan keamanan penggunaan propolisnya. Namun, memerlukan lebih banyak objek penelitian untuk mendapatkan nilai yang signifikan,” lanjutnya.

PRODUK SUDAH BEREDAR

Dr. Sahlan menyampaikan, uji klinis saat ini akan diarahkan pada aktivitas immunostimulator dan antiinflamasi. Kemudian, ke depannya akan didaftarkan sebagai obat herbal terstandar.

Produk dari hasil penelitian Dr. Sahlan dan kawan-kawan kini sudah beredar di masyarakat. Produk yang dimaksud bernama EZ. EZ menggunakan proses ekstraksi khusus yang dapat menghilangkan lilin tanpa mengurangi khasiat yang terdapat pada madu.

Selain madu, lebah juga menghasilkan senyawa dari getah pohon atau tanaman hijau yang dinamai propolis. Mereka menggabungkan getah, kotoran mereka sendiri, dan lilin lebah. Hasilnya bertekstur lengket, berwarna coklat kehijauan, dan digunakan sebagai pelapis untuk membangun sarang lebah. Nah, inilah yang disebut propolis.

Penghilangan wax atau lilin pada madu sangatlah penting dilakukan karena tubuh manusia hanya dapat mencerna 20 mg lilin. Sayangnya, lilin yang masuk pada tubuh manusia dapat mengganggu saluran pencernaan. Hal ini disebabkan oleh lilin yang menempel pada saluran pencernaan. Alhasil, dapat menganggu sistem metabolisme tubuh.

Produk EZ bisa dibeli melalui beragam platform digital secara online, seperti Instagram @yourezlife dan situs madoe.id.

Bagikan artikel ini: