KENALI RISIKO DI BALIK DIET KETOFASTOSIS

Dalam beberapa tahun terakhir, diet ketofastosis cukup populer sebagai ikhtiar untuk menurunkan berat badan. Namun, risiko jangka panjangnya patut diwaspadai.

 

Ketofastosis merupakan gabungan antara ketogenik dan fastosis (fasting on ketosis) atau berpuasa dalam keadaan ketosis. Ketogenik mengedepankan pola konsumsi lemak tinggi dan karbohidrat rendah dengan perbandingan 75 persen lemak, 20 persen protein, dan 5 persen karbohidrat.

Sementara itu, ketosis merupakan kondisi saat lever membakar lemak menjadi asam keton untuk kemudian diolah sebagai energi. Agar tubuh beradaptasi dengan proses ini, fastosis dianjurkan berlangsung selama 16-18 jam dan hanya diperkenankan mengisi perut dengan air putih atau minuman bebas kalori lainnya.

Konsultan gastroenterologi hepatologi Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., MMB, FINASIM, FACP, FACG menuturkan, ketofastosis tergolong ekstrem karena memaksa tubuh untuk mengambil energi dari lemak, bukan dari karbohidrat yang kemudian diolah menjadi glukosa.

Asupan lemak tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung, sekaligus meningkatkan beban kerja lever dan pankreas. Terlebih, tubuh manusia memiliki kapasitas untuk mencerna lemak maksimum 50 persen dari kebutuhan kalori harian.

Dalam menurunkan berat badan, konsumsi karbohidrat dan makanan manis memang harus dibatasi untuk mengurangi kalori, tetapi bukan berarti dikompensasi dengan asupan berlemak tinggi,” kata Ari.

Pasalnya, lemak yang tidak tercerna dapat meningkatkan kolesterol yang kemudian menumpuk di pembuluh darah, lever, ataupun kantong empedu. Risiko penyakit pun sulit dihindari jika tubuh mengonsumsi lemak tinggi setiap hari tanpa diimbangi dengan asupan serat yang memadai.

“Jangka pendeknya adalah mengalami konstipasi dan maag, sedangkan dalam jangka panjang bisa terserang penyakit jantung, kanker usus besar, dan diverticulosis 

Asupan lemak tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung, sekaligus meningkatkan beban kerja lever dan pankreas.

(pembentukan kantong kecil pada saluran pencernaan–red). Karena itu, diet ketofastosis sebaiknya dihindari,” ujar Ari yang juga merupakan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UI.

Belakangan, sempat beredar isu bahwa diet ketofastosis diklaim dapat menangkal COVID-19. Namun, hingga kini belum ada penelitian lebih lanjut pada manusia. Menurut Ari, sebetulnya diet terbaik adalah diet seimbang dengan komposisi 50 persen karbohidrat sebagai sumber energi, 30 persen protein untuk meregenerasi sel, dan 20 persen lemak sebagai pelindung organ-organ dalam tubuh. Gaya hidup sehat juga dapat diperoleh dengan rutin mengonsumsi serat tidak larut seperti yang terdapat pada sayuran hijau.

Ketimbang diet ketofastosis, Ari menyarankan diet intermittent fasting seperti puasa Ramadan atau puasa Senin-Kamis yang mengizinkan pencernaan beristirahat sekitar 14 jam, sekaligus membantu mengurangi frekuensi makan harian dari tiga kali menjadi dua kali. Berdasarkan hasil penelitian tim Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, puasa Ramadan juga dapat menurunkan berat badan dan lemak tubuh meski tanpa perubahan asupan makan.

Namun demikian, Ari mengungkapkan terdapat 11 kelompok pasien yang tidak dianjurkan untuk berpuasa, yakni pasien yang sedang diinfus atau mendapat tranfusi darah, pasien infeksi akut, pasien migrain atau vertigo, pasien gangguan pernapasan akut, pasien penyakit jantung dengan gagal jantung, pasien sakit maag akut, pasien kanker, pasien gangguan lever kronis lanjut, pasien gagal ginjal kronis yang sedang menjalani terapi dialisis, pasien diabetes yang gula darahnya belum terkontrol atau memiliki kebutuhan insulin tinggi, serta orang tua berusia lanjut yang mengalami pikun atau Alzheimer.

Bagikan artikel ini: