Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) cepat beradaptasi dengan adanya Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Kurikulum yang telah berjalan tak diubah, melainkan diatur ulang (reorganize) sebagai penyesuaian.
Kepala Unit Modernisasi dan Internasionalisasi Pendidikan FTUI Prof. Dr. Ir. Harinaldi, M.Eng mengaku, FTUI sempat ‘shock’ dengan berlakunya MBKM, terutama di awal penerapannya. Ia tak menampik bila tantangan terberat terkait MBKM berada di awal penerapan program tersebut.
“Saat itu, kami berupaya untuk menyamakan persepsi di kalangan civitas akademika FTUI. Terlebih, terdengar suara ‘sumbang’ dari lingkungan internal FTUI sendiri. Skeptisme sempat dirasakan oleh beberapa pihak,” ujarnya.
Setelah kami evaluasi, Prof. Harinaldi meneruskan, kurikulum di FTUI yang telah tersusun dan berjalan harus diatur ulang (reorganize).
“Jadi, bukan diubah. Hal ini supaya penerapan MBKM bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” ia menegaskan.
Sebenarnya, Prof. Harinaldi menambahkan, sebagian besar dari delapan kegiatan MBKM sudah dijalani oleh FTUI terlebih dahulu. Tapi, memang, tak sama persis. Di FTUI, Prof. Harinaldi mencontohkan, telah mengenal kerja praktik yang sebenarnya menggambarkan kegiatan magang dalam MBKM.
“Tapi, memang magang di MBKM waktunya lebih panjang dan terbuka lebih luas bagi mahasiswa,” katanya.
Kemudian, lanjutnya, di FTUI juga sudah banyak mahasiswa yang mengambil kelas internasional di mana terlaksana pertukaran pelajar. Selain itu, riset untuk kegiatan penelitian juga menjadi bagian integral dari kegiatan belajar-mengajar di FTUI, terutama menjelang skripsi.
Banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan laboratorium walaupun belum menjalani skripsi, menjadi asisten dosen di lab, atau membantu dosennya dalam penelitian. Dengan adanya MBKM, kegiatan ini lebih terkesan formal karena juga memiliki bobot SKS tertentu,” paparnya.
MEMBENTUK KOMITE
Prof. Harinaldi menuturkan, FTUI serius menjalani Program MBKM. Keseriusan ini salah satunya terlihat dengan dibentuknya Komite MBKM di FTUI.
“Kami tak tanggung-tanggung menjalankan Program MBKM. Kami siapkan perangkat yang telah disesuaikan, seperti membentuk Komite MBKM. Komite MBKM inilah yang mengeluarkan panduan MBKM di FTUI. Panduan ini merupakan penyesuaian terhadap ketentuan setingkat kementerian dan universitas,” ia menjabarkan.
Prof. Harinaldi mengungkapkan, Komite MBKM telah membukukan panduan tersebut. Saat ini, buku panduan tersebut menunggu pengesahan dari Dekan FTUI. Jika tak ada aral melintang, buku panduan ini akan digunakan di semester gasal 2022 nanti.
“Kenapa kami mengaturnya? Kami harus mengompromikan antara kegiatan-kegiatan MBKM dan kebutuhan-kebutuhan atau requirement dari akreditasi. Hampir seluruh program studi tingkat sarjana di FTUI mengikuti akreditasi internasional. Jadi, kami melihat peluang MBKM pada kompetensi- kompetensi yang sifatnya tambahan atau pendukung,” jelasnya.
Meski mampu beradaptasi cepat, bukan berarti FTUI tak menghadapi tantangan lagi dalam penerapan MBKM.
“Tantangan ke depan adalah bagaimana memperbanyak mitra strategis. Kami sudah mendorong tiap program studi untuk tidak membatasi diri menjajaki kerja sama dengan mitra-mitra hanya dari flagship kementerian. Jadi, bagaimana kami mengintensifkan dan mengekstensifkan kegiatan- kegiatan MBKM yang tak sekadar tambahan portofolio bagi mahasiswa, melainkan juga memiliki nilai tambah lain,” tutupnya.


