Respect dan terus belajar. Itulah dua nilai (value) yang tertanam dalam diri Jojo S. Nugroho, S.Sos, CCMP, CPR. Kedua nilai ini menjiwainya sejak masih duduk di bangku kuliah hingga sekarang. Jojo mengakui, kehidupan di FISIP UI sewaktu dirinya menjalani kuliah S1 dulu menempa dirinya untuk selalu saling menghormati orang lain.
“Di FISIP UI kan biasa berdebat. Kita punya pendapat masingmasing mengenai suatu isu. Begitu pula orang lain. Di sinilah pentingnya kita saling menghormati, saling menghargai pendapat orang lain. Masingmasing kan memiliki paradigma yang mungkin berbeda, persepsi yang berbeda. Tiap orang punya alasan kenapa kemudian mereka berpandangan seperti itu. Setiap alasan mungkin memiliki kebenarannya masingmasing. Jadi, tidak ada kebenaran mutlak sebenarnya. Itu yang saya bawa sampai sekarang sebagai praktisi,” ujar Managing Director IMOGEN Public Relations ini.
Selain itu, Jojo meneruskan, sebagai individu, dirinya juga tidak membatasi diri untuk belajar. Artinya, ia menekankan pentingnya belajar terus-menerus, tanpa batasan tempat, waktu, atau usia. “Meski telah lulus, kita harus terus belajar. Kita tidak boleh berhenti di satu titik saja,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) ini.
GIVING BACK
Meski telah cukup lama lulus dari UI, Jojo mengisahkan, dirinya tetap menjalin komunikasi dan sinergi dengan sesama alumni UI atau pihak kampus. Saat ini, misalnya, ia menduduki posisi sebagai Kepala Humas Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI).
“Kami baru saja menggelar series of training. Kami bikin enam sesi training. Semuanya membahas tentang kehumasan. Nah, online training ini terbuka bagi seluruh keluarga besar UI, dari ILUNI, BEM, Fakultas hingga Rektorat. Tiap sesinya, bisa sampai 120-an peserta,” ungkap ayah dua anak tersebut.
Di samping itu, lanjutnya, dirinya juga beberapa kali menghadiri kelas sebagai dosen tamu di FISIP UI. “Beberapa teman kuliah saya dulu ada yang menjadi dosen atau kepala departemen. Mereka beberapa kali mengundang saya untuk knowledge sharing di kelas. Saya akan usahakan untuk berbagai waktu untuk itu. Kalau saya tidak menguasai materi, biasanya saya rekomendasikan teman-teman alumni lainnya atau di luar alumni FISIP UI.
Ini adalah tentang giving back ke kampus. Anytime, saya siap untuk sharing, tidak hanya ke mahasiswa. Karena bidang saya kehumasan, saya juga kerap sharing ke temanteman humas UI atau humas fakultas,” papar lulusan S1 Ilmu Komunikasi pada FISIP UI Angkatan 1994 ini.
BELAJAR BANYAK HAL DI LUAR KAMPUS
Jojo berpesan kepada para juniornya yang masih menjalani pendidikan di bangku kuliah agar tidak berpuas diri dengan pengetahuan yang diperoleh di kampus. Ia tak menampik UI sebagai ‘ladang ilmu’ yang berkualitas mumpuni.
“Tapi, kita juga harus belajar banyak hal di luar kampus sehingga begitu lulus kita tidak kaget, ‘Oh, ternyata di luar kok begini ya’. Jadi, sejak kuliah mulai banyak ikut kegiatan, tidak hanya di dalam kampus, tapi juga organisasi di luar kampus. Lalu, lakukan juga magang di beberapa tempat supaya banyak pengalaman dan itu juga menempa karakter kita. Kelak, kita dapat lebih memahami profesionalitas itu seperti apa. Jadi, tidak sekadar text book. Link and match itu perlu. Jangan berdiam diri di dalam kampus, tapi juga mendapatkan exposure yang lebih banyak di luar kampus,” jelas pria yang dulunya sempat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) tahun 1996 ini.
Aktif berorganisasi dan mencari ilmu seluasnya, ujar Jojo, penting untuk bekal masa depan. Terlebih, tantangan ke depan, khususnya bidang kehumasan yang digelutinya, makin besar. “Tantangan paling besar, khususnya saat pandemi Covid-19 sekarang ini adalah seputar hoax. Ini adalah masalah kebenaran informasi. Kini, makin tipis perbedaan antara informasi yang valid dan tidak valid. Kita tidak bisa langsung menilai suatu informasi itu benar atau tidak. Jadi, mesti cross check karena seringkali suatu informasi yang terlihat valid ternyata tidak, ternyata dimanipulasi. Itu memang challenge kita. Pandemi Covid-19 membuat keterbatasan karena kita sering berada di rumah, maka sumber utama informasi berada di online. Informasi hoax inilah yang beredar di online,” ia mengingatkan.


