Seiring pemberlakuan pembatasan sosial, bersepeda kembali naik pamor sebagai upaya meningkatkan imunitas dan menangkal virus. Apa saja yang perlu diperhatikan?
Hampir setiap akhir pekan, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI Saleh Husin, S.E., M.Si. menyempatkan diri untuk bersepeda. Ia menjadikan olahraga ini sebagai hobi sekaligus ajang menjalin networking setelah tak lagi menjabat sebagai Menteri Perindustrian RI pada 2016 silam.
Medan bersepeda Saleh terbilang bervariasi, mulai dari mengitari area perumahan, jalan raya, hingga kawasan hutan. Jarak yang ditempuhnya pun bisa mencapai puluhan kilometer. Ia biasa bersepeda bersama sejumlah koleganya atau hanya berdua ditemani sang istri, Andresca Husin.
“Jika group riding, sebaiknya tidak bergerombol ke tengah jalan, tetapi berbaris dengan tetap menjaga jarak aman. Selain itu, jangan bersepeda sendiri apabila hendak menempuh jarak yang jauh,” ujar Managing Director Sinar Mas ini.
Setiap kali bersepeda, Saleh mengenakan baju yang menyerap keringat, helm, kaca mata, dan sarung tangan. Semenjak pandemi melanda, ia pun senantiasa menjalankan protokol kesehatan dengan memakai masker dan face shield , serta mengantongi hand sanitizer dan tisu basah.
Sebelum berangkat, Saleh tak lupa melakukan pemanasan ringan, minum air putih, dan menyantap makanan berupa biskuit atau pisang agar perut tidak kosong. “Saya juga selalu memastikan bahwa sepeda berada dalam kondisi prima, mulai dari rem, ban, hingga rantai,” tambahnya.
UTAMAKAN SOLO RIDING
Virus Corona menyebar melalui percikan cairan (droplet) yang dapat mengontaminasi tangan serta masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Karena itu, protokol 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak harus digalakkan untuk mencegah penularan, tidak terkecuali saat bersepeda.
Menurut dr. Andhika Raspati, Sp.KO, pesepeda tetap harus memakai masker sekaligus menjaga jarak sejauh 10-20 meter jika berada dalam satu jalur dengan pesepeda lain.
“Lebih aman lagi apabila berbeda jalur dan solo riding. Kalaupun ingin bersepeda bersama, usahakan maksimum lima orang dan hindari berkumpul setelahnya,” ujar dokter tim nasional balap sepeda Indonesia saat Sea Games 2019 dan Asian Games 2018 ini.
Selain itu, pesepeda sepatutnya mengenakan helm sebagai alat perlindungan standar serta memerhatikan rambu lalu lintas dan pengguna jalan lain ketika mengambil jalur jalan raya. Face shield bisa dikenakan, namun fungsinya tidak akan optimal jika tidak menggunakan masker.
Bagi pesepeda pemula, dr. Andhika menyarankan untuk mengawalinya di medan datar dan berkecepatan rendah selama 20-25 menit. Sementara jika sudah rutin bersepeda, dapat menjaga beban latihan dengan durasi 30-60 menit sebanyak 3-5 kali seminggu. Usai berolahraga, lakukan recovery dengan mengonsumsi nutrisi seimbang terdiri atas cairan dan elektrolit, glukosa, serta protein, diiringi tidur berkualitas selama 7-9 jam.
“Jangan pula terlalu memforsir tubuh ketika sudah vakum berolahraga lebih dari dua minggu. Dalam kondisi detraining, kerja jantung bisa menurun hingga 10 persen dan membutuhkan waktu untuk meningkatkannya kembali,” pungkas alumnus FK UI ini.

