Haru Deliana Dewi, Ph.D
Berawal dari Keresahan Hati
Dua judul buku telah dihasilkan dari buah pemikiran Haru Deliana Dewi, Ph.D., seorang dosen Program Studi Linguistik (S2) dan Program Studi Inggris (S1) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Kedua buku tersebut berawal dari keresahan yang dialami olehnya.
“Setelah saya menyelesaikan pendidikan S3 di Amerika Serikat (AS), saya kembali mengajar di FIB UI tahun 2016, tepatnya untuk mata kuliah Dasardasar Penerjemahan Umum (DPPU). Saat itu, saya menemukan fakta bahwa materi ajar mata kuliah DPPU mencakup teori dan praktik dengan bobot 3 SKS. Saya merasa mahasiswa/i kewalahan karena memang terlalu banyak materinya yang menggabungkan teori dan praktik tersebut. Ketika saya kembali mengajar di mata kuliah tersebut dan menjadi koordinatornya, saya berpikir ini tidak akan bagus bagi peserta didik. Oleh sebab itu, saya memutuskan DPPU itu isinya hanya teori dasar penerjemahan,” Haru menceritakan awal mula buku pertamanya yang berjudul “Dasar-dasar Penerjemahan Umum” terbit pada medio Maret 2020 silam.
BERDASARKAN PENGALAMAN MENGAJAR
Kemudian, lanjutnya, Haru mengusulkan kepada Fakultas untuk membuka mata kuliah baru mengenai praktik penerjemahan. Gayung bersambut, seiring meluncurnya Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), keinginan Haru terkabul. Kini, ada dua mata kuliah mengenai penerjemahan yang terpisah, yakni teori dan praktik.
Selain keresahan dalam dirinya, terbitnya buku pertama Haru juga dilatarbelakangi saat ia mengikuti sebuah pelatihan Applied Approach (AA) bagi dosen. Ketika itu, seorang trainer di pelatihan tersebut mewajibkan para peserta untuk bisa menerbitkan buku karyanya dengan menuliskan setidaknya satu bab dari buku yang direncanakan.
Haru tidak sendiri dalam menyusun buku pertamanya. Ia menyusunnya bersama seorang koleganya yang juga dosen Program Studi Inggris FIB UI Andika Wijaya, M.TransInterp. Buku inilah yang kemudian menjadi buku wajib dalam mata kuliah DPPU.
“Buku tersebut kami tulis berdasarkan pengalaman mengajar kami yang telah bertahun-tahun dan juga contoh-contoh yang dihasilkan oleh mahasiswa,” ujarnya.
Setelah ada mata kuliah tentang teori dan praktik penerjemahan di FIB UI, Haru merasa perlu juga untuk memiliki referensi khusus mengenai praktik penerjemahan. Maka, dari sinilah Haru mulai menggarap buku keduanya yang berjudul “Praktik Penerjemahan Dasar: Penerjemahan Beberapa Jenis Teks”. Namun, kali ini, Haru menyusun bukunya tersebut seorang diri. Andika, koleganya yang juga menulis pada buku sebelumnya, tidak memungkinkan terlibat di tengah kesibukannya kala itu.
LEBIH INTENSIF DAN EKSTENSIF
Dalam penyusunan buku keduanya ini, Haru mengaku dirinya lebih fokus, intensif, dan ekstensif. Ia lebih banyak ‘melahap’ referensi, melakukan riset mendalam, analisa komprehensif, dan menanggalkan asumsi belaka.
“Saya melakukan riset, benarbenar membaca secara ekstensif dan intensif untuk mendapatkan apa sih teori yang berkembang untuk setiap jenis teks. Lalu, saya juga melakukan analisa berdasarkan contoh-contoh otentik pada setiap jenis teks,” jelasnya.
Proses penyusunan buku kedua Haru ini sejak riset hingga cetak sekitar 1,5 tahun. Periode waktu ini lebih cepat ketimbang saat Haru menyusun buku pertamanya bersama Andika yang memerlukan waktu hampir dua tahun.
“Tapi, pengerjaan buku pertama sempat terhenti beberapa bulan. Berbeda dengan buku kedua saya ini yang pengerjaannya hampir tiap hari dilakukan. Lebih fokus,” tegasnya.
Haru tak menampik menemui sejumlah tantangan dalam penyusunan buku keduanya ini. Terlebih, masih minim sekali referensi, baik dari dalam maupun dari luar negeri, yang berupa buku mengenai praktik penerjemahan beberapa jenis teks.
“Kesulitan yang saya alami adalah tidak semudah itu mencari pertalian teori dan jenis teks. Jadi, ada penerjemahan jenis teks yang teorinya banyak, tapi ada juga yang sedikit sekali,” paparnya.
Meski begitu, Haru tak ‘patah arang’. Menurutnya, kalau kita mau berupaya lebih keras lagi dalam mencari sesuatu, pasti membuahkan hasil.
Kedua buku ini tidak hanya diperuntukkan kepada mahasiswa S1. Tapi, bisa juga bagi masyarakat yang ingin belajar, ingin tahu apa sih penerjemahan itu. Dengan adanya kedua buku ini, saya juga berharap mampu mendorong kemajuan dalam kajian penerjemahan di Indonesia
“Buku kedua saya ini memiliki 12 halaman referensi. Satu halamannya meliputi lebih dari 10 referensi,” Haru menggambarkan betapa ekstensif dan intensifnya upaya untuk menyusun bukunya ini.
Kini, buku kedua Haru yang berjudul “Praktik Penerjemahan Dasar: Penerjemahan Beberapa Jenis Teks” juga menjadi buku wajib di lingkungan FIB UI. Namun, menurutnya, buku tersebut sangat bisa diaplikasikan di perguruan tinggi dan untuk para praktisi penerjemahan.
“Kedua buku ini tidak hanya diperuntukkan kepada mahasiswa S1. Tapi, bisa juga bagi masyarakat yang ingin belajar, ingin tahu apa sih penerjemahan itu. Dengan adanya kedua buku ini, saya juga berharap mampu mendorong kemajuan dalam kajian penerjemahan di Indonesia,” tutupnya.



