UI mulai memberlakukan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sejak Maret silam. Bagaimana mahasiswa menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran ini?
ALFIAN GUNAWAN
Prodi S1 Fisika, FMIPA, Angkatan 2019

Awal penerapan PJJ, saya memutuskan tidak pulang ke rumah di Pangkalpinang karena dikabarkan masih terdapat praktikum tatap muka. Meski kelas tersebut akhirnya berlangsung online, saya memilih tetap berada di Depok untuk mencegah penularan.
Saya memanfaatkan WiFi kost dan sesekali mobile data selama PJJ. Boleh dibilang kini saya sudah terbiasa PJJ, walau interaksi dengan dosen lebih terbatas dan sempat kesulitan mengakses media pembelajaran.
PJJ sebetulnya efektif untuk kuliah teoretis dan kegiatan asistensi. Adapun mayoritas mata kuliah di prodi saya menggunakan PJJ sinkronus melalui aplikasi online meeting, sedangkan praktikum berlangsung asinkronus berupa pengolahan data dan penyusunan laporan.
FEBY ARGINIA PUTRI
Prodi S1 Arab, FIB, Angkatan 2017
Perasaan saya campur aduk ketika PJJ diterapkan. Sedih karena tidak bisa berinteraksi langsung dengan teman-teman dan dosen, sekaligus penasaran karena ini merupakan pengalaman pertama berkuliah daring.
Saya mengikuti perkuliahan dari rumah di Jakarta dengan koneksi WiFi. PJJ pada prodi saya cenderung sinkronus melalui video conference dan Google Classroom untuk diskusi. Disiplin dan manajemen waktu menjadi tantangan terbesar saya selama PJJ, apalagi fokus saya mudah teralihkan.
Saya kurang setuju apabila PJJ tetap berlangsung sekalipun pandemi telah tuntas. Tidak semua mahasiswa mampu menjalankannya secara memadai. Kuliah tatap muka jauh lebih efektif karena lebih interaktif sehingga mudah memahami materi, juga dapat menikmati suasana dan fasilitas kampus.
MOHAMMAD OMAR ABDURROHMAN
Prodi S1 Psikologi, FPsi, Angkatan 2019
Ketika pengumuman PJJ, awalnya saya senang karena mengira kuliah diliburkan. Ternyata, metode pembelajaran berubah dari tatap muka menjadi daring.
Saya mengikuti PJJ dari rumah orang tua di Jakarta. Hampir setiap mata kuliah berlangsung sinkronus, begitu pula dengan rapat organisasi. Alhasil, pemakaian mobile data saya melonjak dua kali lipat hingga 60GB per bulan.
Melawan rasa malas dan keinginan untuk merebahkan diri merupakan tantangan terbesar saya selama PJJ. Saya lebih nyaman kuliah tatap muka karena materi lebih mudah dipahami, serta bisa berinteraksi langsung dengan dosen dan teman-teman. Mudah-mudahan pandemi cepat teratasi agar mahasiswa bisa kembali belajar dan beraktivitas di kampus.
FENNY NADIA NUR UTAMI
Prodi S1 Ilmu Hukum, FH, Angkatan 2019
Saya merasa senang saat PJJ mulai diberlakukan karena berarti tidak perlu berangkat ke kampus untuk kuliah. Namun, seiring waktu berjalan, timbul kejenuhan sekaligus kerinduan bertemu teman-teman.
Selama PJJ yang umumnya berlangsung sinkronus, saya tinggal di rumah orang tua, tepatnya di Bekasi. Terus terang, kuliah tatap muka lebih nyaman dan lebih mudah fokus dibandingkan PJJ. Koneksi WiFi di rumah juga kadang terhambat. Saya biasanya membuat to-do list agar lebih semangat dan tidak ada tugas yang terbengkalai.
Saya tidak setuju apabila PJJ dipermanenkan sebagai metode pembelajaran. Hal ini karena saya cukup sering menggunakan fasilitas kampus, sehingga sangat disayangkan jika tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.





