“…tidak hanya memikirkan personal glory…”

Mohamad Al-Arief telah puluhan tahun berkarier di lembaga internasional. Saat ini, ia menempati posisi sebagai Head of External & Corporate Relations, Infrastructure Practice Group pada Bank Dunia (The World Bank) yang berkedudukan di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Suatu jabatan bergengsi di sebuah badan dunia.

Namun, apakah itu berarti ia telah merasa telah menggapai kesuksesan? Bagaimana pula tekadnya bagi tanah air tercinta Indonesia suatu hari nanti? Pria yang akrab disapa Al-Arief ini mengungkapnya dalam wawancara eksklusif dengan UI Magz.

JELASKAN SECARA SINGKAT TENTANG TUGAS DAN FUNGSI JABATAN ANDA SAAT INI?

Saat ini, saya turut menangani portofolio infrastruktur World Bank secara global, termasuk sektor transportasi, energi, prasarana digital, serta pembiayaan infrastruktur. Di seluruh dunia, ada lebih dari 400 proyek infrastruktur dengan pembiayaan sekitar US$67 miliar dan sekitar 150 yang lain sedang dipersiapkan senilai kurang lebih US$26 miliar. Hal ini termasuk sektor energi baru terbarukan. Kita semua harus bekerja keras untuk climate action. Kita melihat bagaimana ekonomi bisa berkembang pesat dengan investasi prasarana yang baik. Namun selalu harus dipikirkan juga sisi lingkungan dan sosialnya. Sebelumnya, saya adalah Advisor kepada Managing Director World Bank, yakni Dr. Mari Pangestu. Saya selama dua dekade terakhir telah berkarier di lembaga keuangan internasional ini. Setiap saat, saya harus melalui proses kompetisi dan harus membuktikan kemampuan saya di global job market. Institusi di mana saya bekerja cukup diverse. Ada sekitar 25.000 talenta bekerja di sini dari sekitar 150 negara. Setiap hari dalam lingkungan kerja, saya menyadari bahwa selain membawa reputasi profesional diri sendiri, saya juga menjadi brand ambassador Indonesia. Dalam setiap interaksi saya dengan rekan kerja, saya harus membuktikan bahwa bangsa Indonesia itu mumpuni, profesional, team player, visioner, dan selalu menjadi part of the solution. Dengan semua ini, kita bisa mempunyai daya saing tinggi.

APA JABATAN PENTING LAINNYA YANG PERNAH ANDA DUDUKI?

Pada tahun 2017–2020, saya sempat kembali ke tanah air dan niat saya saat itu adalah keinginan untuk berbakti kepada tanah air. Saat itu, saya mendapat amanah sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan Republik Indonesia Dr. Sri Mulyani Indrawati. Saya beruntung dapat bekerja bersama para tokoh hebat world class yang juga jebolan UI. Pada saat bersamaan, saya juga ditugaskan sebagai Komisaris PT Indonesia Infrastructure Finance, sebuah BUMN yang bertujuan untuk menjadi katalisator pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kebutuhan infrastruktur di negara kita banyak dan tidak semua harus mengandalkan anggaran negara, bisa melalui public-private partnership. Saya juga sempat menjadi Presiden Indonesia Diaspora Network (IDN) Global, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk menggali potensi diaspora Indonesia untuk tanah air. Pengalaman di diaspora ini juga yang membuat saya untuk memutuskan untuk berbakti kepada bangsa dan kembali ke tanah air saat itu, seperti teman- teman sesama diaspora yang lain.

APA KIAT ANDA UNTUK SUKSES DAN BERHASIL DALAM KARIER?

Pertama, kita harus mempunyai defisini sendiri apa yang dimaksud dengan ‘sukses’. Orang tua saya sejak kecil selalu mendidik saya untuk tidak hanya memikirkan personal glory, tetapi juga memikirkan kontribusi untuk the greater good. Pesan moral yang tersirat adalah there is no greatness without goodness. Jadi, dalam karier, ini menjadi moral compass saya. Sukses bagi saya adalah apa yang kita bisa kontribusikan kepada masyarakat, komunitas, dan kemanusiaan secara keseluruhan. Sukses tidak hanya dinilai dari jabatan dan remunerasi yang kita dapatkan. Dari awal memulai karier, saya memang terdorong untuk melakukan public service dan berkarier di sebuah development institution merupakan sarana saya melakukan itu. Sesuai peribahasa, ‘If we love what we do, we don’t have to work a single day in our life’. Jadi, urusan karier itu akan mengikuti dengan sendirinya asal kita mengetahui passion kita.

BIODATA

  • Nama:

    • Mohamad Al-Arief
  • Tempat & Tanggal Lahir:

    • Bogor, 28 Juni 1972
  • Jenjang pendidikan:
    • D3 Aktuaria dan Perbankan, FISIP UI, Angkatan 1990
    • S1 Sarjana Hukum (Tata Negara), FHUI, Angkatan 1991
    • S1 Sarjana Ekonomi (Manajemen), FEUI Ekstension, Angkatan 1995
    • S2 Magister Sains (Kajian Wilayah Amerika), Fakultas Pascasarjana UI, Angkatan 1999
    • S2 Master of Arts (International Relations), Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University, Medford, Massachusetts, USA – Angkatan 2018
    • Leadership Program, Georgetown University, Walsh School of Foreign Service, Washington, DC, USA – 2016
    • Executive Education in Management, University of Nottingham, 2019
  • Jabatan:
    • Head of External & Corporate Relations, Infrastructure Practice Group, The World Bank, Washington DC

SIAPAKAH SOSOK YANG PALING BERPENGARUH DALAM HIDUP ANDA HINGGA BISA BERADA PADA POSISI SEKARANG?

Almarhumah ibu saya merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Beliau tokoh fenomenal yang selalu saya kagumi. Meski datang dari keluarga yang sangat sederhana, beliau berani untuk bermimpi besar. Beliau menikah pada usia muda saat berumur 18 tahun dan mengandung saya saat berumur 21 tahun. Namun, ibunda selalu menggarisbawahi pentingnya menuntut ilmu. Pada usia muda, ia berhasil menyelesaikan studi doktoral-nya melalui beasiswa di Amerika Serikat dan mengabdi menjadi dosen bidang Farmasi di UI. Jadi, beliau juga sempat menjadi diaspora. Baginya, public service through teaching was her passion in life. Setiap saat, saya selalu bersyukur mempunyai seorang ibu yang begitu gigih. Selain itu, saya juga beruntung bahwa saya merupakan third generation yellow jackets dalam keluarga, selalu bersentuhan dengan UI. Kakek saya dulu juga sempat menjadi dosen di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Arab.

APAKAH MENTOR ITU PENTING DALAM KEHIDUPAN KITA? BAGAIMANA CARANYA MENDAPATKAN MENTOR YANG BAIK?

Mentor bisa menjadi pengaruh baik dalam kehidupan. Namun, memang kita harus memilih mentor yang tepat. Kita harus melihat track record orang tersebut dan perlu disesuaikan dengan visi hidup kita. Selain itu, kita juga harus selektif dan kritis terhadap advice yang datang dari para mentor. Selain keahliannya, kita juga harus memastikan bahwa individu tersebut mempunyai integritas yang solid. We need to be influenced by the right sets of people. Dalam puisinya bertajuk Invictus, penyair Inggris William Ernest Henley mengatakan bahwa ‘At the end of the day, we are the master of our own fate, we are the captain of our soul‘.

PELAJARAN PENTING APA YANG ANDA PETIK SELAMA BERKARIER DI LUAR NEGERI?

Alhamdulillah, selama lebih dari 25 tahun berkarier secara profesional, saya telah mengunjungi lebih dari 60 negara dan belajar dari pengalaman pembangunan mereka. Suatu saat, saya akan membawa kembali pengetahuan tersebut untuk memberi sumbangsih kepada bangsa sendiri, to ensure that our Republic will thrive and our people will prosper.

NILAI-NILAI APA SAJA YANG PENTING BAGI ANDA SELAMA KULIAH DI UI?

Bagi saya selama kuliah di UI, nilai-nilai yang sangat menyentuh saya adalah bait-bait dalam hymne UI yang menurut saya sangat indah dan sakral. Bait-baitnya sangat pendek. Namun, jika kita memahaminya, maknanya sangat dalam. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk mengamalkan Tri Dharma almamater tercinta kita.

Almamaterku Setia Berjasa
Universitas Indonesia
Kami Wargamu
Bertekad Bersatu
Kami Amalkan Tridharma-mu
Dan Mengabdi Tuhan
Dan Mengabdi Bangsa
Dan Negara Indonesia

APA PENGALAMAN PALING BERKESAN ANDA SELAMA KULIAH DI UI?

Banyak sekali kesan positif selama di UI, utamanya adalah kaliber dosen yang luar biasa. Selain mengajar, banyak dari para dosen kita juga mempunyai real world experience yang luar biasa, menjadi pembuat kebijakan dan profesional di bidangnya. Saya juga selalu kangen untuk kembali ke kampus dan menyantap jajanan di Balsem (balik semak), Barel (balik rel), atau Kansas (kantin sastra). Nama kantin tersebut mungkin sudah berubah sekarang. Namun, kita semua saat itu bermodalkan nutrisi dari kantin-kantin tersebut hingga bisa tahan berkuliah sepanjang hari.

BAGAIMANA CARA ANDA TURUT BERKONTRIBUSI TERHADAP UI SAAT INI?

Saya berusaha untuk kembali ke kampus jika ada kesempatan. Bersama para alumnus seangkatan saya, terkadang kami melakukan berbagai kegiatan untuk turut mendukung almamater, mulai dari membantu membangun fasilitas kampus sampai memberikan motivasi kepada para mahasiswa. Jika saya diundang untuk berbicara di hadapan para mahasiswa baru atau diminta UI Career Center untuk memberikan presentasi motivasi, saya akan semangat untuk datang, baik secara virtual maupun langsung. Almamater telah membawa kita semua pada titik ini. Untuk itu, kita semua perlu memikirkan kontribusi masing-masing kepada almamater. Selalu menjadi kebanggaan bagi saya dan an honor of a lifetime to be a part of this center of excellence yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh bangsa. Jayalah almamaterku, Universitas Indonesia.

Bagikan artikel ini: